Search This Blog

Friday, May 5, 2017

Seumpama Matahari, Kisah Cinta Berlatar Perang Aceh

Judul: Seumpama Matahari
Pengarang: Arafat Nur
Penyunting: Yetti A. KA
Tebal: 142 halaman
Cetakan: 1, Mei 2017
Penerbit: DIVA Press




Seumpama Matahari adalah novel kelima karya Arafat Nur yang khas dengan setting Acehnya. Buku ini sendiri--mengutip penulisnya--ditulis berdasarkan catatan gerilya Thayeb Loh Angen, kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hampir saja kisah ini hendak dimusnahkan oleh pelakunya sendiri, tetapi penulis berhasil menyelamatkannya dan kemudian mengabadikannya ke dalam bentuk novel. Untunglah, karena kalau tidak, kita pasti akan kehilangan satu cerita langka sekaligus unik tentang cinta yang berlatarkan era perang di Aceh. Pengerjaannya yang mendahului Lampuki juga semakin menegaskan kalau novel ini bisa jadi menjadi pemantik awal dari proses kreatif Arafat Nur sebelum menelurkan karya-karya sastra lain yang beraroma perang di Aceh pada era GAM. Sebuah karya yang mengajak kita untuk memandang perang dari sudut pandang para pelakunya.

"Kita sama-sama anak bumi, pengatur sekaligus penjaga alam." (hlm. 69)

Novel dibuka dengan adegan pertempuran yang intens. Cara penulis membuka cerita mengingatkan saya pada gaya-gaya penulis luar, yang langsung menghentak perhatian pembaca lewat kata-kata yang sangat kuat deskripsinya: Mati kena tembak adalah salah satu jalan akhir dari banyak jalan akhir lain pada kehidupan ini. Meskipun mati dengan cara begitu sangat tidak menyenangkan, secara tidak langsung, saat ini telah menjadi pilihan yang dengan sadar sedang kami hampiri perlahan-lahan. Gaya yang mendekati puitis tetapi tidak kemayu ini akan sering kita jumpai saat membaca buku ini. Selanjutnya, pembaca akan diajak mengikuti kisah Asrul, seorang pejuang kemerdekaan Aceh yang berperang gerilya melawan TNI di pedalaman Sumatra pada sekitar tahun 2001.

"Adanya  hari ini memang disebabkan masa lalu. Namun, manusia lahir untuk masa depan." (hlm. 111)

Membaca karya sastra mengajarkan kita untuk tidak keburu menghakimi dan tidak ragu berempati. Ini karena sastra memperluas pandangan kita, dengan mengajak kita memandang dari sudut pandang orang lain. Seperti itulah Seumpama Matahari ini. Kita diajak melihat dan mendengarkan pandangan dari salah satu pasukan GAM. Dari sudut pandangnya, pembaca jadi tahu mengapa GAM membenci TNI dan Indonesia. Perlawanan tidak muncul begitu saja, biasanya didahului adanya penindasan atau perlakuan-perlakuan tidak adil. Secara tidak langsung, pembaca diajak bersimpati kepada Asrul. Pemuda itu menjadi seperti itu karena perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan segelintir pasukan TNI pada ayahnya yang tidak bersalah. Dari sinilah dendam itu muncul, yang kemudian mendapatkan penyalurannya lewat GAM.

"Tetapi perang memang begitu. Jika tidak membuat keluarga mereka luka, maka mereka akan membuat luka keluargaku." (hlm. 80)

Tapi, ternyata buku ini tidak melulu tentang perang. Ada kisah cinta juga di dalamnya. Asrul yang tengah melarikan diri dari kejaran aparat ternyata dipertemukan dengan dua orang gadis yang kelak akan mengubah jalan kehidupannya. Tidak ada hal lain yang mereka tawarkan kepada Asrul kecuali cinta nan tulus. Dan perang yang telah merusak wajah alam serta wajah kemanusiaan itu memang sering kali butuh kisah cinta untuk memperlembutnya, syukur-syukur untuk menghentikannya. Seperti yang dialami Asrul, pertemuannya dengan Putri dan Ana telah membawa napas baru dalam hidupnya. Asrul menyadari bahwa hidup tidak melulu tentang perang. Dari keduanya juga Asrul belajar bahwa sejatinya Bumi tetap sama dan satu, tetapi manusia lah yang merusaknya dengan perang hanya karena perbedaan penguasa.

"Satu-satunya kebodohan terbesar manusia adalah membuat alat penghancur; bom, mesin, dan mesin pembunuh. Tugas suci manusia sebagai pelindung dan pemimpin. Bukan saling melenyapkan." (hlm. 69)

Secara garis besar, buku ini kecenderungannya menentang perang antara GAM dan TNI. Tetapi hebatnya, Arafat Nur menyampaikan gagasannya tersebut dengan tidak mengurui. Samar tapi kokoh, penulis menyelipkan ide tentang perdamaian di Aceh lewat cerita cinta yang sederhana tetapi sangat mengena. Untuk buku tipis yang bisa dibaca sekali duduk, kisah ini menawarkan warna lain di balik perang Aceh, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan kembali apa sejatinya perang itu. Setelah sampai di penghujung buku yang ditutup dengan sama kuatnya, kita akan terdorong untuk bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita terus berperang?







1 comment:

  1. Terima kasih, Mas Dion. Saya suka sekali ulasannya. Salam damai dari Aceh :)

    ReplyDelete