Search This Blog

Tuesday, May 9, 2017

Berguru Menulis Puisi Kepada Rindu



Judul: Berguru kepada Rindu
Penyusun: Acep Zamzam Noor
Sampul: Amalina
Cetakan: Pertama, April 2017
Tebal: 88 hlm
Penerbit: DIVA Press



Dalam acara Kampus Fiksi Emas 2017, Joko Pinurbo menyebaut Acep Zamzam Nor sebagai penyair yang karya-karyanya wajib dibaca. Terutama bagi para calon penyair yang ingin memyempurnakan keahlian bermulut manisnya berpuisinya. Memang, guru terbaik para penulis adalah para penulis yang lainnya. Maka begitu pula, guru terbaik penyair adalah penyair-penyair lainnya. Jadi, selain mau  membaca alam dan kejadian di sekitarnya, seorang penyair harus tekun membaca karya-karya penyair lain untuk bisa menghasilkan karya-karya puisi yang tetap bagus dan semakin dahsyat. Menurut Jokpin, puisi-puisi Acep memiliki aroma alam yang kental. Puisi-puisinya memang banyak menggambarkan tentang fenomena alam. Fenomena-fenomena ini ditangkapnya dengan indra, kemudian dipindahkan dalam baris-baris kata yang tak kalah indahnya.

Keteguhan dipunyai gelombang
Dengan tariannya yang lentur
Ketabahan dimiliki karang
Yang tulus menerima setiap debur

Keteguhan dipegang ufuk
Sebagai pembatas ruang dan waktu
Kematangan digenggam matahari
Yang rela tenggelam untuk terbit kembali
(Pelajaran dari Teluk, 2014)

Menggunakan kata-kata yang sederhana, bait-bait pendek, Acep mampu menghasilkan puisi yang mengalun lembut. Pilihan kata-katanya bisa dipahami awam, dan ini masih dilengkapi dengan nada lagu yang tercermin pada rima-rimanya (silakan baca baris 2 dan 4, serta 7 dan 8 pada puisi di atas). Dari semua puisi di buku ini, kebanyakan memang pendek-pendek dan ringkas, dan ini menjadi ciri khas sendiri yang sekaligus memudahkan pembaca puisi tingkat awal seperti saya untuk bisa menikmatinya. 

Cinta adalah buku tebal
Yang tak pernah akan selesai
Aku baca
(Cinta, hlm. 36) 

Selain tentang alam, Jokpin juga menyebut Acep sebagai jagonya pembikin syair-syair cinta. Tetapi, puisi cinta di buku ini sama sekali tidak mendayu-dayu, walau masih menggunakan bahasa cinta semacam rindu dan kenangan, juga senja. Cinta dalam puisi-puisi Acep menurut saya adalah cinta yang universal, seperti pada puisi yang sangat saya sukai ini:

Cinta yang maha besar
Hanya mampu diungkapkan
Lewat puisi pendek
(Cinta, hlm. 37)

Tema cinta memang seperti tak habis digali, baik dalam novel ataupun puisi. Tetapi puisi-puisi cinta di buku ini sama sekali tidak terasa basi. Membacanya, kita diajak terkenang pada masa-masa dulu ketika cinta mungkin pernah menyapa walau masih malu-malu. Saya senyum-senyum sendiri membaca puisi-puisi lembut di buku ini. Lembut mungkin cocok digunakan untuk menyebut puisi-puisi Acep Zamzam Noor.

Andai ruang bisa dilipat
Selipkan aku dalam suratmu
Cinta tidak membutuhkan jarak
Meski rindu selalu mengulur waktu.
(Surat, hlm. 38)

Pada akhirnya, saya mulai sedikit memahami kenapa Jokpin meminta kita untuk belajar berpuisi pada Acep Zamzam Noor. Lewat karya-karyanya ini, penyair mampu menunjukan bahwa puisi cinta tidak melulu harus selalu mendayu-dayu. Juga, bahwa puisi tidak selamanya harus berpanjang-panjang demi memamerkan kekayaan kosa kata. Sebuah puisi yang baik adalah ketika puisi itu setidaknya dapat dinikmati pembacanya, syukur-syukur dapat sedikit-banyak melembutkan jiwanya.

Puisi yang baik seharusnya
Seperti batu akik. Permukaannya halus
Kedalamannya dapat diterawang dan sinarnya
Memancar ke luar. Batu akik yang matang
Tidak banyak menampilkan gambar
Namun memantulkan bayangan
Hati yang menggosoknya.
(Batu Akik, hlm 52)

Puisi-puisi di buku ini memiliki perpaduan keindahan lukisan dengan kemeriahan permainan kata-kata. Pantas saja, selain berpuisi, penyairnya ternyata pelukis yang produktif. Keren ya bisa menggambarkan keindahan ke dalam dua media: kata dan rupa.

No comments:

Post a Comment