Search This Blog

Wednesday, August 23, 2017

The Last Star, Apa yang Menjadikan Kita Manusia?



Beberapa hari lalu, saya sempat membaca satu artikel di surat kabar terkait aksi teror di Barcelona. Satu hal yang saya tangkap dari tulisan itu, bahwa tujuan akhir dari aksi teror bukan pada jumlah korban yang sebanyak-banyaknya, tetapi pada munculnya rasa tidak percaya sesama—kepada orang-orang asing yang bukan dari golongan mereka. Ketika orang sudah tidak saling percaya, ketika itulah para teroris berhasil mencapai tujuannya. Orang jadi merasa tidak aman berada di kerumunan atau di antara orang-orang yang tidak dikenalnya. Mereka tidak mau lagi mengulurkan tangan kepada orang asing, bahkan pada mereka yang membutuhkan. Manusia kehilangan kemanusiaannya. Sungguh mengerikan jika ini terjadi. Seperti inilah resep yang digunakan Rick Yancey dalam buku terakhir seri Gelombang Kelima ini.

"... kau tak pernah kehilangan mereka yang mencintaimu, karena cinta itu konstan: cinta bertahan." (hlm. 142)

Wednesday, August 9, 2017

Mencoba Teknik Konmari, Tips Berbenah ala Jepang



Judul Buku : The Life-changing Magic of Tidying Up
Penulis : Marie Kondo
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 224 halaman
Cetakan pertama : Agustus 2016



Kalau ada satu buku nonfiksi yang heboh banget dibicarain di forum-forum pecinta penimbun buku sepanjang tahun 2017 ini, maka salah satunya adalah buku karya Marie Kondo. Buku tentang seni beres-beres rumah ala Jepang ini diberi nama Konmari, sesuai dengan nama penulisnya yang dibalik. Ajaibnya, kata ‘kon mari’ ini mirip dengan kata-kata dalam bahasa Jawa yang artinya “(di) suruh sembuh” atau “(di)minta waras”. Bisa juga sih karena memang lewat bukunya ini Marie Kondo seperti ingin menyuruh orang-orang agar sembuh dari kebiasaan buruk kita yang suka menimbun menyimpan barang melebihi dari yang kita butuhkan.  Tanpa kita sadari, kebiasaan suka menumpuk barang-barang yang lebih sering tidak kita gunakan dan keengganan untuk membuang barang-barang yang bahkan sudah tidak kita perlukan memang sudah menjadi semacam ‘penyakit’. Di Indonesia, terutama di pedesaan yang rumahnya masih lapang dan punya gudang, kebiasaan ini mungkin belum terlalu mengganggu. Tetapi di Jepang yang rumahnya kadang hanya satu atau dua petak, kebiasaan menimbun barang adalah bencana.

Tuesday, August 8, 2017

1434, Benarkah China Memicu Renaisance?


Judul: 1434: Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia
 dan Mengobarkan Renaissance
Penyusun: Gavin Menzies
Penerjemah: Kunti Saptoworini
Tebal: 430 hlm
Cetakan: April, 2009
Penerbit: Alvabet





Bangkitnya Peradaban Barat pada era Renaisance (sekitar abad ke-13 dan ke-14) selama ini diketahui karena maraknya kembali pengkajian terhadap karya-karya Yunani-Romawi. Lewat penerjemahan naskah-naskah Latin kuno, bangsa Eropa mendapatkan kembali kegairahan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi, yang akhirnya mendorong kepada era penjelajahan samudra. Negeri Italia menjadi saksi lahirnya para manusia Renaisance yang serba-bisa, yang sulit ditemukan tandingannya sepanjang sejarah seperti Leonardo da Vinci.Tetapi, sesungguhnya, jika mau jujur, ada semacam celah kosong yang memisahkan antara dua fakta sejarah ini: naskah-naskah Yunani yang lebih bersifat filsafat dengan munculnya sketsa-sketsa peralatan teknologi karya Da Vinci yang begitu detail dan teknis sifatnya. Bagaimana bisa Da Vinci melukis perangkat-perangkat canggih semacam helikopter sederhana, parasut, hingga meriam sederhana? Apakah bangsa Yunani kuno memang benar sudah mengembangkan perangkat-perangkat ini?

Monday, August 7, 2017

Pengumuman Pemenang Giveaway: SIWA 2, Rahasia Kaum Naga

Penulis:Amish
Penerjemah: Briliantina L Hidayat
Pemindai Aksara: Jenny M Indarto
Penyelaras Bahasa: I Wayan Sarjana
Penggambar Sampul: Imam Bucah
Menata Letak: desain651@gmail.com
ISBN: 978-602-6799-25-8
Tebal: 410 Halaman
Cetakan: Pertama-Juni 2017
Penerbit: Javanica



"Ada dewa di dalam diri setiap manusia. Dan ada kejahatan dalam diri setiap manusia. Pertempuran yang sesungguhnya antara kebaikan dan kejahatan terjadi dalam diri manusia." (hlm. 132)

Setelah menjelajahi wilayah Keraajaan Wangsa Surya di Meluha pada buku pertama, Siwa melanjutkan penjalanannya dalam menemukan kesejatian dirinya sebagai sang mahadewa di negeri Swadipa. Negeri ini berada di wilayah Wangsa Candra. Di buku kedua ini, banyak rahasia terungkap, musuh-musuh baru yang muncul, juga kawan-kawan anyar.  Siwa masih berupaya mendapatkan jawaban tentang siapa sang Naga dan kaumnya. Mereka inilah yang bertanggung jawab dalam tewasnya Brahaspati—saudara karib yang sangat disayangi oleh sang Nilakatha. Dan menurut kabar, jawaban atas hal itu bisa ditemukan di salah satu negeri taklukan yang berada di wilayah Swadipa, yakni Negeri Braga. Misteri yang satu biasanya tertutupi oleh misteri-misteri yang lainnya, dan itulah yang terjadi di negeri ini. Semacam pageblug penyakit aneh mewabah di sana. Konon hanya obat dari kaum Naga saja yang bisa manjur melawan penyakit tersebut. 

Seiring dengan semakin jauh perjalanannya, Siwa semakin bingung dengan segala fenomena yang dihadapinya. Di kota Kashi yang toleran terhadap semua kepercayaan, Siwa menemukan bahwa apa yang selama ini dianggapnya baik ternyata tidak selalu baik, juga apa-apa yang dipandangnya jahat ternyata tidak selamanya berbuat jahat. Terutama terkait kaum Naga, Siwa dan Satui akhirnya menemukan sebuah fakta yang luar biasa tak terbayangkan tentang Raja dan Ratu Naga. Sebuah rahasia kelam dari masa lalu yang selama ini ditutupi dengan alasan yang masih sama misteriusnya. Benarkah Kaum Naga itu jahat? Ataukah meraka hanya korban yang harus menanggung dosa akibat kondisi dan penguasa yang tidak berpihak kepada mereka? Sesuai dengan judulnya, pembaca akhirnya akan diajak mengetahui siapa Kaum Naga di buku ini.

Friday, August 4, 2017

Menguak Proses Kreatif 14 Pengarang Indonesia




Selalu menyenangkan menyimak pengalaman hidup para pengarang yang turut menjadikan mereka seperti sekarang. Dari pengalaman-pengalaman mereka, kita sebagai pembaca bisa belajar banyak tentang menulis, tentang proses kreatif mereka dalam berkarya, dan sesekali juga tentang kehidupan. Dari sekian cerita, kita jadi tahu bahwa para pengarang yang kini masyur namanya dulunya pernah manusia biasa juga. Bahkan, sejatinya pun saat ini mereka adalah manusia biasa seperti semua kita. Hanya pengalaman dan perjuangan mereka dalam menulis itulah yang kemudian mengangkat nama mereka. Para pengarang tersebut menuliskan karya-karya yang lalu menjadikan kehidupan mereka bermakna karena telah turut menyumbangkan ragam tulisan istimewa dalam khasanah sastra bangsa.

Mungkin, karena terdorong oleh keinginan untuk memperkenalkan sekaligus mengabadikan proses kreatif para pengarang inilah, Pamusuk Erneste (yang buku editing karyanya masih menjadi kitab pegangan saya dalam bekerja) berinisiatif untuk mengundang para pengarang Indonesia menuliskan pengalaman mengarangnya. Melalui email, beliau menyurati satu per satu pengarang yang terkenal atau mulai melejit namanya pada era 80-an. Email balasan ternyata berdatangan. Para pengarang lokal seolah menyambut hangat inisiatif istimewa ini sehingga terkumpul belasan artikel, esai, dan narasi tentang proses mengarang para pengarang ini. Kumpulan tulisan inilah yang kemudian diterbitkan dalam empat buku berseri oleh Kepustakaan Populer Gramedia dalam seri #Proses Kreatif #4: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Sayang sekali di Scoop hanya ada seri #4, saya masih berusaha mencari versi cetak dari seri #1 hingga seri #3.

Dalam pengantarnya untuk seri #4 ini, Pamusuk Erneste menyebut bahwa “menulis karya fksi tidak bisa diajarkan, tapi bisa dipelajari. Karena itulah tiap sastrawan memiliki kekhasan dalam proses kreatifnya.” Sebagai pembaca yang ingin juga menulis, kita perlu mengetahui bagaimana setiap pengarang memproses kreativitasnya sehingga menghasilkan tulisan yang dibaca jutaan pembaca. Ada pengarang yang menulis berdasarkan peristiwa yang dilihatnya, seperti Seno Gumira Ajidarma. Ada yang kekhasan tulisannya muncul karena kondisi di mana dia tinggal, seperti Ahmad Tohari. Ada pengarang yang begitu terkagum-kagum pada bahasa sebagai alat komunikasi sehingga dia menggunakan bahasa sebagai ‘senjata’ dalam menulis karya, seperti Montinggo Busye. Ada lagi pengarang yang sedemikian takluk pada  pesona benda-benda di sekitarnya sehingga benda-benda itu menjadi ruh dalam karyanya, seperti kita lihat pada puisi-puisi Afrizal Malna.

Ada 14 penulis yang berbagi proses keratif mereka di buku ini. Mereka adalah Ayu Utami, D. Zawawi Imron, Akhudiat, Motinggo Busye, Piek Ardijanto Soeprijadi, Aoh K. Hadimadja, Herlino Soleman , Acep Zamzam Noor, Seno Gumira Ajidarma, Afrizal Malna, Darman Moenir, Ahmad Tohari, Upita Agustine, dan Ngurah Parsu. Beberapa pengarang sudah sata baca karyanya  (Ayu Utami, Ahmad Tohari, dan Seno Gumira Ajidarma), ada yang saya belum pernah baca karyanya tapi pernah mendengar namanya (Afrizal Malna dan Zawawi Imron), dan banyak yang baru saya dengar namanya #duhmaaf. Masing-masing bercerita tentang bagaimana mereka berproses dalam menulis lewat caranya masing-masing. Saya terutama suka sekali dengan gaya Motinggo Busye dalam berkisah. Bahkan sejak judulnya, pengarang ini sudah menunjukkan kenyentrikkannya “Motinggi Disayang Tuhan, Sekaligus Disayang Setan? Milik Seno menurut saya yang paling sedikit “datar” karena beliau lebih seperti menulis cerpen ketimbang berbagi pengalaman, tapi tetap bisa diambil ilmunya. 

Secara khusus, Ayu Utami menyoroti tentang nasib sebuah karya setelah tulisan itu dilempar ke ranah pembaca.  Barangkali, penulis tidak akan bisa berbuat banyak ketika karya  itu lalu dipuja atau malah dihujat para pembacanya. Saat itulah berlaku ungkapan Barthez bahwa pengarang sudah mati. Namun, saat proses penciptaan sebuah karya, penulis mau tidak mau harus tunduk pada karyanya setidaknya hingga karya itu selesai dituliskan. Ada juga Herlino Soleman yang menyebut menulis sebagai bekerja keras yang mengasyikkan. Afrizal Malna menegaskan vitalnya peran benda dan lingkungan sekitar dalam berkarya. “Setiap hal yang hadir dalam puisi, entah benda atau seseorang, ikut menentukan jalannya puisi. Artinya, mereka sebenarnya telah ikut menulis puisi bersama saya. Puisi ditulis bersama mereka. Bersama orang lain. Mustahil menulis puisi seorang diri.” (hlm. 75)

Seperti banyak hal lain, para pengarang di buku ini menunjukkan betapa mengarang adalah proses yang tidak bisa berdiri sendiri. Setiap pengalaman, peristiwa, hingga benda-benda akan turut mempengaruhi para pengarang dalam berkarya. Selain itu, di buku ini saya juga menemukan pembuktian dari ucapan Motinggo Busye, bahwa ‘Tak ada pengarang yang bisa jadi pengarang tanpa membaca buku.’ Seluruh pengarang di buku ini (dan juga di banyak buku lain yang saya baca) adalah para pembaca yang rakus di masa kecilnya. Dari proses membaca inilah kemudian bibit-bibit menulis itu tumbuh dan kemudian berkembang. Bahkan para penyair yang pengalamannya begitu mendominasi buku ini juga menunjukkan gelagat kecintaan yang luar biasa kepada buku dan membaca di masa kecil mereka. Sekali lagi, memang benar sebuah ungkapan yang berbunyi bahwa para penulis yang baik adalah juga para pembaca buku yang baik. 


Judul: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang
 (Proses Kreatif, #4)
Penyusun: Pamusuk Eneste (Editor), Ayu Utami, D. Zawawi Imron, Akhudiat, Motinggo Busye, Piek Ardijanto Soeprijadi, Aoh K. Hadimadja, Herlino Soleman , Acep Zamzam Noor, Seno Gumira Ajidarma, Afrizal Malna, Darman Moenir, Ahmad Tohari, Upita Agustine, dan Ngurah Parsua

Penerbit: KPG, 2009, 270 hlm




Thursday, August 3, 2017

Kerinduan Danarto dalam Godlob



Judul: Godlob, Kumpulan Cerpen
Pengarang: Danarto
Tebal: 252 hlm
Cetakan: 1, Juli 2017
Sampul: Amalina
Penerbit: Basabasi



Sekali lagi, membaca karya Danarto terbukti membuat saya ‘kebingungan’. Saya menjadi bagian dari sekian banyak pembaca yang berujung pada tanya setelah menyelesaikan membaca Godlob. Cerpen-cerpennya memang cenderung berat, terutama berat dengan aneka perlambang. Dan rasa ‘berat’ itu semakin intens ketika Danarto menjejalkan perlambang Ketuhanan dalam tulisan-tulisan di buku ini. Tokoh-tokohnya begitu liar, dalam artian mereka begitu rindunya ingin bertemu Tuhan sehingga maut pun mereka tantang. Putri Salome bahkan bertindak lebih nekat lagi.  Begitu kuatnya keinginan untuk bisa melihat langsung wajahNya, wanita itu memutuskan untuk menentang perintah-perintahNya. Bagi orang lain, apa yang dilakukan Salome dan Rintrik yang buta mungkin dianggap sebuah kegilaan. Tetapi bagi para pecinta, tindakan-tindakan ini adalah wajar adanya. Semacam penyakit kerinduan akut yang mendera para perindu.

“Orang jantan adalah orang yang mengakui keterbatasannya.” (hlm 44)

1. Godlob
                Cerpen yang diawali dengan muram dan angker ini ternyata tidak berujung pada horor. Justru, lewat darah, luka, dan kematian, Danarto seperti hendak memprotes perang. Dalam perang, selalu rakyat yang menjadi korban, selalu para serdadu yang diumpankan sementara para petinggi hanya duduk-duduk di dalam benteng menyusun strategi. Dan ketika akhirnya seluruh tentara binasa—anak-anak yang masih muda itu, yang pergi berperang hanya sekadar memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang baik—tidak ada yang tersisa selain kesedihan bagi yang ditinggalkan. Apalah artinya gelar pahlawan jika keluarga diceraiberaikan dan anak habis tuntas tiada bersisa?

2. JUDUL: JANTUNG TERPANAH
                Cerpen ini unik sejak dari judulnya, yang bukan berupa tulisan tetapi gambar jantung terpanah sebagai perlambang jatuh cinta. Judul unik ini rupanya sesuai dengan isinya, tentang seorang wanita buta yang jatuh cinta kepada Tuhannya. Begitu tajamnya panah asmara itu menancap, sehingga bahkan ancaman maut dari sesamamanusia pun tidak mampu mengoyahkan tekadnya untuk menghadap sang Kekasih Sejati. Cerpen ini memiliki aroma sufisme yang kuat.

Thursday, July 27, 2017

Sang Guardian: Garda Pelindung Jiwa dan Cinta



Judul: Pacarku Jatuh dari Langit

Pengarang: Heruka
Penyunting: Diandra Kreatif
Tebal: 624 hlm
Cetakan: 1, Mei 2017
Penerbit: Diandra  Kreatif


                Pertama, saya suka sama cara penulis mengulirkan cerita, lancar sekali.  Sejak halaman awal, saya sudah merasa betah membacanya, lebih karena teknik penulis yang lumayan terasah dan bukan karena ceritanya. Kisah tentang malaikat yang jatuh ke bumi dan jatuh cinta pada manusia sudah beberapa kali diangkat dalam novel, di antaranya Hades dan seri The Mortal Instrument karya Cassandra Clare. Penulis kemudian mengangkat lagi tema ‘malaikat jatuh (cinta)’ tapi kali ini dengan setting Indonesia, dengan dunia SMA-nya yang khas. Ini yang bikin buku ini seger dan saya bisa bertahan membacanya ... setidaknya sampai halaman 200-an. Melewati titik kritis ini, saya mulai merasakan kebosanan. Pada 200 halaman pertama bisa saya selesaikan dalam 3 – 4 hari, tetapi setelah itu kecepatan baca saya menurun drastis sehingga akhirnya butuh waktu hampir 2 minggu untuk membaca buku setebal 600 halaman ini. Ada apakah?