Search This Blog

Friday, February 24, 2017

Jembatan ke Terabithia; Perayaan Sejati atas Masa Kanak-Kanak

Judul: Bridge to Terabithia
Pengarang: Katherine Paterson
Penerjemah: Rina Wulandari
Tebal: 236 hlm
Cetakan: 1, Desember 2016
Penerbit: Noura Books

33867181

Membaca Bridge to Terabithia untuk yang kedua kalinya tetap menghadirkan rasa haru atas indahnya persahabatan antara Jess dan Leslie. Versi filmnya juga sudah berulang kali diputar di TV, tetapi sebagaimana bukunya, Jembatan ke Terabithia selalu mampu menghadirkan kembali perasaan haru biru ketika kita membaca atau menonton kisahnya. Kini, diterbitkan ulang oleh Noura Books, buku anak legendaris ini hadir kembali dengan sampul yang lebih segar. Sampul hijaunya mengingatkan kita pada hutan ajaib tempat Jess dan Leslie membangun Kerajaan Terabithia mereka. Tali ayunan di atas sungai sebagai penghubung menuju Terabithia juga dilukiskan dengan indahnya. Ahhh ... menatap kehijauan di sampul buku ini serasa mendengar para penghuni Terabithia memanggil-manggil kita untuk turut larut dengan cerita di dalamnya. 

"... mungkin Terabithia semacam kastel yang kau datangi untuk diberi gelar. Setelah kau tinggal sejenak dan tumbuh kuat, kau harus pergi." (hlm. 230)

Monday, February 20, 2017

Blogtour and Giveaway: AHANGKARA

Judul: Ahangkara
Pengarang:Makinuddin Samin
Penyunting: Joni Sujono
Penyelaras Akhir: Shalahuddin Gh
Pemeriksa Aksara: Jenny M Indarto
Cetakan: 1, Februari 2017
Tebal: 496  hlm
Penerbit: Javanica



"Itulah yang disebut ahangkara, keakuan." (hlm. 238)

Roda kekuasaan terus bergulir seiring dengan berjalannya peradaban. Kekuasaan silih berganti, kerajaan lama jatuh untuk digantikan dengan yang baru. Demikian lah kekuasaan dipergilirkan. Majapahit yang pernah jaya menguasai wilayah nusantara pun tak kuasa mengelak dari perputaran  roda takdirnya. Kerajaan besar ini perlahan redup sebelum akhirnya harus takluk di bawah kekuasaan lain yang mulai tumbuh di utara Jawa, Kerajaan Demak.  Transisi kekuasaan dan keyakinan dari era Majapahit ke era Demak pada abad ke-16 beserta sejumlah peristiwa besar yang mewarnainya inilah yang dikisahkan dengan begitu asyiknya lewat novel ini. Tidak hanya kekayaan data sejarah yang dipaparkan, tetapi di dalamnya tersimpan beragam kisah yang berhasil menghidupkan kembali tokoh-tokoh bersejarah dari tanah Jawa.

Tahun 1478, Demak menyerang Majapahit di Trowulan, kemudian mengganti penguasanya dengan pemimpin boneka. Tanda-tanda kejatuhan Majapahit memang telah dekat. Selain sibuk dengan perang saudara, pengaruhnya juga mulai melemah seiring dengan semakin berkembangnya ajaran agama Rasul yang disebarkan para wali. Walau demikian, sejumlah kadipaten di Brang Wetan (Jawa Timur) masih menyatakan kesetiaannya kepada Majapahit yang dianggap sebagai penjaga budaya leluhur. Salah satunya adalah Kraton Tuban beserta sejumlah wanua (kelurahan) di bawahnya juga diam-diam masih berkiblat kepada Majapahit meskipun banyak penduduk dan pemimpinnya telah menganut ajaran agama Rasul. Kemudian, ketika tersiar desas-desus bahwa Demak akan menyerang Tuban, jaringan telik sandi (mata-mata) pun disiagakan. Dari Wanua Ambulu yang terpencil, disusun beragam siasat rumit untuk menghadapi perang besar yang telah menanti di depan mata.

"Semakin sedikit menimbulkan kerusakan, semakin baik. Menang perang tidak harus menghancurkan, Senapati." (hlm. 182)
 
Alur besar novel ini digerakkan oleh warga wanua Ambulu, sebuah kelurahan kecil di barat Tuban yang akan menjadi target pertama jika Demak benar akan menyerang Tuban. Untuk melindungi rakyat dan juga keyakinan leluhur yang diwariskan lewat Majapahit, para tetua Ambulu mengatur serangkaian siasat yang dijalankan secara diam-diam bersama para telik sandi Tuban. Ketika sejarah menjadi saksi bahwa Demak benar-benar menyerang Tuban dan menghancurkan sisa-sisa kekuatan terakhir Majapahit di Brang Wetan, maka dimulai juga ekspedisi perang pasukan Demak untuk menaklukan seluruh Jawa bagian timur. Pada saat yang sama, berlangsung juga perang bawah tanah selama sembilan belas tahun sebagai serangan balasan untuk Demak. Adu siasat dan adu strategi, perang antartelik sandi pun berlangsung seru antara pihak Demak dan sisa-sisa pengikut Majapahit di penjuru Brangwetan.

"Jalan perang tidak pernah bisa mengubah keyakinan seseorang karena keyakinan tidak bisa dipaksakan melalui kekerasan. Para penyiar agama Rasul di tanah Jawa sejak generasi pertama sampai sekarang selalu menggunakan jalan damai, jalan persaudaraan." (hlm 56)

Uniknya lagi, walau membahas tentang kerajaan Demak dan menyebut tentang sejumlah wali, tidak lalu kemudian novel sejarah ini berubah menjadi novel religi. Bahkan, seperti yang dijelaskan oleh Sunan Kudus sendiri, penyerangan Demak ke Tuban dan Majapahit bukan lah sebuah perang agama melainkan sebuah upaya penaklukan untuk menyatukan seluruh Jawa di bawah satu kekuasaan tunggal. Bahkan, bupati Tuban dan juga banyak kraton-kraton lain di Brang Wetan yang pro-Majapahit banyak yang sudah memeluk agama Rasul. Menarik juga disimak dalam novel ini dapat kita temukan sejumlah penganut ajaran Rasul yang bertindak terlampau fanatik dan merasa benar sendiri. Pihak inilah yang berusaha membelokkan perang Demak - Majapahit menjadi perang agama. 

"Yang kita warisi dari Kanjeng Rasul adalah ajarannya, isi kebenaran di dalamnya, bukan budaya dan rancang bangunnya."  (hlm. 282)
 

 Apa yang menjadikan Ahangkara istimewa adalah kisah sejarah ini dituliskan dalam fiksi yang begitu memikat. Dengan lihai, penulis mampu menyatukan kepingan data dan fakta sejarah dalam jalinan cerita yang renyah. Selamat tinggal bacaan sejarah yang membosankan dan bikin mengantuk karena nyatanya saya betah banget menikmati halaman-halaman di buku ini. Sedikit mengingatkan saya pada semesta dalam kisah Raden Mandasia namun Ahangkara lebih kaya akan data dan fakta sejarah. Begitu banyak kata-kata lama yang dimunculkan, istilah-istilah Jawa--yang mungkin dulu saya bosan mendengarnya saat menonton ketoprak--dihadirkan kembali. Tentu dengan disertakan catatan kaki yang menjelaskan makna dari kata-kata tersebut. Tokoh-tokoh bersejarah dari jawa seperti Adipati Unus, Sultan Trenggana, Ratu Kalinyamat, Arya Penangsang, hingga Sunan Kudus 'dihidupkan' ulang dengan sedemikian manusiawi sehingga pembaca bisa merasakan kedekatan dengan tokoh-tokoh hebat tersebut. 

"Yang jauh lebih penting dari kekuasaan dunia adalah kekuasaan atas jiwa."  (hlm. 389)

Kejelian penulis dalam menyusun sebuah cerita yang mampu menampung tokoh-tokoh besar dalam linimasa sejarah di Tanah Jawa layak diacungi jempol. Alih-alih kebingungan, pembaca akan mendapat banyak pengetahuan baru juga cara pandang baru seputar sosok-sosok yang selama ini hanya kita kenal secara sekilas lewat pelajaran sejarah. Sedikit sejarah terkait pembangunan Masjid Kudus juga turut dipaparkan di novel ini. Luar biasa terharu  mendengar  penjelasan Sunan Kudus ketika memerintahkan pembangunan menara masjid agar menyerupai Purawaktra, gerbang barat kotaraja Majapahit di Trowulan. Hal unik lain dari Ahangkara ada pada tema mata-mata alias telik sandi ala Jawa tempo dulu yang didedahkan sedemikian detail di buku ini. Mulai dari cara bersiasat, teknik menyusup, mengelabuhi musuh, menciptakan pancingan, hingga aneka formasi perang digelar begitu semaraknya. Ternyata, bangsa kita juga memiliki kekayaan khazanah dalam ilmu perang yang tak kalah mengagumkan dengan Tiongkok atau negara barat. Buku ini benar-benar menyadarkan saya tentang betapa masih ada banyak sekali pengetahuan leluhur yang belum kita ketahui atau pelajari. 



GIVEAWAY

Mau novel Ahangkara GRATIS? Nah, kebetulan ini Penerbit JAVANICA  menghadiahkan DUA novel Ahangkara secara cuma-cuma untuk dua calon pembacanya. Tapi, ikutan kuisnya dulu ya. Berikut ini syarat dan cara ikutan kuisnya:

1. Silakan di-follow dulu akun fanpage Penerbit Javanica dan akun FB penulisnya Makinuddin Samin.

2. Share/bagikan info giveaway ini di Facebook atau twitter. Boleh mention saya atau penerbitnya.

3.  Silakan dijawab pertanyaan berikut di komentar postingan ini:

"Setuju/tidak dengan adanya perang? Alasannya?"

4. Dimohon hanya menjawab satu kali saja. Format jawaban adalah sebagai berikut:

Nama:
Akun twitter/Facebook:
Link share:
Jawaban:

5. Kuis ini akan ditutup pada 26 Februari 2017. Saya akan memilih DUA PEMENANG yang akan mendapatkan masing-masing satu buku ini gratis. Satu pemenang akan dinilai dari jawabannya, sementara satu pemenang lagi dari hasil undian seluruh jawaban yang masuk dengan bantuan random.org.

6. Giveaway ini hanya berlaku untuk peserta yang derdomisili atau memiliki alamat kirim di wilayah NKRI. Jika belum beruntung di blog saya, masih ada kesempatan mendapatkan 6 buku Ahangkara di tiga bloghost lainnya. Silakan bisa langsung meluncur ke blog Mbak Hobby Buku setelah di blog ini.  

Terima kasih sudah ikut meramaikan.

 

Friday, February 17, 2017

Kisah-Kisah di Balik Meja CEO Penerbit Bentang Pustaka

Judul: 50 Kisah tentang Buku, Cinta, dan Cerita-Cerita di Antara Kita
Penyusun: Salman Faridi
Penyunting: Iqbal Dawami dan Nurjannah Intan
Cetakan:. Pertama, Januari 2017
Tebal: 258 hlm
Penerbit: Bentang


33836530

Setelah membaca bukunya Pak Edi tentang sejarah berdirinya DIVA Press, perhatian saya tertuju pada buku hampir serupa yang ditulis oleh CEO penerbit lain di Jogja, Bentang Pustaka. Selalu menarik membaca kisah di balik sebuah buku, seperti yang dikisahkan secara singkat namun berisi oleh CEO Bentang ini. Banyak hal seputar penerbitan dikulik-kulik oleh beliau, terutama terkait Penerbit Bentang. Walau model tulisannya sederhana dan pendek-pendek untuk sekali dibaca, banyak pengetahuan seputar buku dan dunia penerbitan yang saya dapatkan. Terutama, yang paling menarik adaah terkait upaya Penerbit Bentang menyambut era internet. Benarkah orang sudah tidak membaca buku fisik lagi? Apakah mesin cetak sudah tamat? Ternyata tidak. Menurut beliau, buku elektronik tidak menggantikan buku cetak, tetapi melengkapinya. Dan, penerbit yang ingin tetap eksis di abad internet ini harus mulai mencari solusi kreatif untuk merangkul dunia maya, dan bukan mengabaikannya. Inilah jawaban dari pertanyaan tentang mengapa Bentang sepertinya gencar banget mulai menjual buku dalam bentuk digital. 

Thursday, February 16, 2017

Dark Romance, Ketika Gelap dan Terang Saling Mencintai

Judul: Dark Romance
Pengarang: Zephyr
Editor: Muhajah Saratini
Cetakan: Pertama, Januari 2017
Tebal: 204 hlm
Penerbit: Senja

 


Di bawah naungan Freya--dewi kesuburan--Kerajaan Asyre yang agung ini berdiri. Tiga bangsa terbesar penghuni Kerajaan Asyre hidup berdampingan dalam damai. Bangsa devoile yang membawa sifat-sifat kegelapan dalam darah hitam mereka, bangsa fyriel dengan kebaikan berpendar dalam cahaya tubuh mereka, dan yang terakhir bangsa manusia--membawa kegelapan sekaligus cahaya di hati yang tersembunyi dalam tubuh lemah mereka. 

Setelah perang berakhir, benua Asyre dibagi menjadi dua kawasan: sebelah barat untuk kerajaan devoile di bawah pimpinan Raja Zodic serta sebelah timur untuk bangsa fyriel dengan dipimpin Raja  Atlura. Di tengah-tengah, dibangunlah tugu perbatasan agar kedua bangsa tidak saling bercampur. Segala bentuk interaksi dilarang. Nah, bangsa manusia di mana? Bangsa manusia tentu saja ada di Bumi. Bagaimana ceritanya manusia bisa ada di bumi dan bukan di Asyre? Ini bagian dari twisted ending di buku ini jadi sebaiknya tidak saya ceritakan.

"Mungkin pendar cahayamu terpakai banyak untuk mengukir wajahmu, Faye." (hlm. 12)

Faye adalah seorang Fyriel dengan pendar cahaya yang sangat lemah. Tidak ada yang tahu mengapa, tetapi gadis cantik itu termasuk lemah untuk seorang putri dari penjaga tambang legenda--Escudo. Senjata yang ditempa dari kristal escudo dapat melukai tubuh bangsa devoile yang konon kebal dengan berbagai serangan apa pun. Keberadaan escudo ini juga sekaligus yang menopang perjanjian damai antara bangsa devoile dan fyriel. Kedua bangsa yang saling bertolak belakang ini sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Perdamaian akan tetap terjaga selama perbatasan tidak dilanggar. Tetapi, cerita ini tidak akan pernah dituliskan kalau nggak ada pelanggaran. Kadang, sebuah pelanggaran terpaksa harus ada agar ada cerita besar yang bergulir.

Saturday, February 11, 2017

Calamity, Akhir dari Kegelapan Para Epic

Judul: Calamity
Pengarang: Brandon Sanderson 
Penerjemah: Putra Nugroho
Cetakan: 1, Desember 2016
Tebal: 571 hlm
Penerbit: Mizan Fantasi

33848545

"Pahlawannya pasti akan datang, Nak. Tetapi terkadang, kita harus membantunya." (hlm. 447)

Dalam buku buku kedua trilogi The Reckoners karya Brandon Sanderson, David berhasil mengetahui bagaimana cara mencegah berubahnya para epic agar mereka tidak menjadi manusia super yang egois dan super congkak. Kekuatan besar yang telah mengorupsi jiwa ternyata masih bisa dilawan dengan keberanian untuk menghadapi ketakutan terbesar setiap Epic. Inilah yang akan membuat kegelapan mundur. Masalahnya, ketakutan setiap epic juga merupakan sumber kelemahan mereka. Dampaknya, kekuatan mereka ternegasikan alias tidak berfungsi setiap kali ada yang berhasil menemukan sumber ketakutannya. Inilah yang bikin Steelheart membasmi semua saksi mata di buku buku pertama. Sayangnya, pengetahuan ini tidak diperoleh secara gratis.  The Reckoners harus kehilangan Prof yang terjatuh dalam kegelapan karena terkorupsi oleh kekuatannya sendiri akibat tipu daya Regalia. Sekarang, David dan kawan-kawan harus bisa membujuk Prof untuk menghadapi ketakutannya sendiri, atau dunia akan musnah di tangan seorang High Epic baru yang tak kalah kuatnya dengan Steelheart.

"Ketakutan lah yang pertama muncul, kemudian diikuti kelemahan. Bukan sebaliknya."  (hlm. 71)

Friday, February 10, 2017

Ketika Dewa Apollo jadi Manusia Biasa

Judul: The Trial of Apollo
Pengarang: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini 
Tebal: 472 hlm
Cetakan: 1, Januari 2017
Penerbit: Mizan Fantasy

33957614

 Jangan suka menghina, jangan suka meremehkan. Dunia itu berputar. Apa yang awalnya di atas bisa sekejap diturunkan ke bawah. Seperti nasib Apollo, dewa congkak yang dihukum untuk menjalani kehidupan sebagai manusia fana akibat kesalahan fatalnya yang hampir bikin kiamat dunia (Baca seri The Heroes of Olympus). Zeus menghilangkan kedewaan Apollo, termasuk segala hak istimewa dewataniyahnya berupa kereta matahari bebas macet, kemampuan menguapkan penjahat dalam sekali tunjuk, perut yang selalu sixpaks tanpa harus olahraga, wajah tampan yang senantiasa belia, serta fasilitas WIFI gratis di kompleks Olympus. Apollo sekarang tidak lebih dari seorang remaja culun berambut keriting dengan perut menggelambir bernama Lester Papadopoulos. Belum pernah sebelumnya sang Dewa Musik, Panahan, dan Seni Pengobatan yang follower instagramnya paling banyak dibanding dewa-dewi Olympus lainnya ini dipermalukan sedemikian rupa. Tapi, cobaannya tidak hanya sampai di situ. Begitu ia jatuh ke bumi, cowok itu langsung dirundung oleh berandalan jalanan. Apollo yang biasanya hobi menebar wabah kini sama tidak berdayanya dengan remaja kikuk. Lebih parahnya lagi, dia pasrah saja diselamatkan seorang demigod jalanan yang keahlian utamanya hanya melemparkan buah-buahan busuk dari tempat sampah.

"Tidak semua monster berwujud reptil seberat tiga ton bernapas beracun. Banyak monster yang berwajah manusia." (hlm. 223)

Walau sudah dihukum, Apollo yang memang tertakdir congkak ini tetap saja narsis tak ketulungan. Bahkan setelah ditolong Percy, si dewa manusia ini masih sempet-sempatnya mengkritik teras rumah Percy yang tidak memiliki anjungan pendaratan untuk kereta terbang. Tapi, well, membaca buku ini kita kudu tahan sama congkaknya Apollo karena dialah yang jadi tokoh utamanya. Menariknya, akhirnya sorotan tidak lagi melulu tertuju pada Percy dkk yang serba sempurna. Apollo di buku ini sama sekali nggak sempurna, setengahnya Percy saja tidak. Jadi, jangan harap mendapatkan adegan aksi macam di seri Percy Jackson atau era Leo Valdes dkk. Kalaupun ada pertempuran, Apollo ini lebih sibuk membikin puisi dua bait alih-alih membidik dengan busur. Nah, untungnya, nyimak narasi Apollo ini asli bikin ngakak. Ada-ada aja tingkah mantan dewa matahari ini. Sementara yang lain sibuk mikir cara mengalahkan roh pembawa wabah penyakit, dia sibuk mengeluh. Sepanjang buku ini, isinya didominasi curcolan Apollo. Jadi kudu sabar-sabarin aja bacanya wkwkwk.

"Aku tersinggung kapan pun karya seni rusak, terutama jika karya seni itu menggambarkan diriku." (hlm. 230)


Thursday, February 2, 2017

Before Us, Cinta Terlarang Bersemi Kembali



Judul: Before Us
Pengarang: Robin WIjaya
Tebal: 304 hlm
Cetakan: Kedua, 2012
Penerbit: Gagas Media

13433062

"Kadang cinta berkata: logika adalah salah, dan ia hanya membela rasa.”

Ngakak, awal baca novel ini adalah ‘dipaksa’ Kak Ve yang katanya salah milih buku. Kak Ve ini suka banget sama blurb  sampul belakang buku ini, jadi ya langsung ambil. Apalagi novel ini adalah karya salah satu novelis kesukaan blio. Begini blurb-nya:

“Kau tahu, aku tak bisa lolos dengan mudah dari jerat-jerat cerita kita yang tak pernah benar-benar selesai. Kau bilang tak perlu ada yang berubah—tapi kenapa aku merasa semakin jauh dengan dirinya, terseret arus yang membawaku ke pelukanmu?”

“MAS DION, ini COWOK sama COWOK,” kata Kak Ve yang urung menyelesaikan membaca buku ini padahal sudah lumayan sampai setengah buku. “Aku baru sadar kalau si A itu bisek!” bilangnya. “Lho, kan cuma dalam novel. Nggak apa-apa kali, Mbak. Anggap The Sweet Sin jilid 2 gitu,” jawabku. “Enggak mau, mas Dion aja ya baca,” tolaknya. “Lah, kok jadi aku?” sergahku. “La kan Mas Dion apa aja dilahap!,” jawabnya tangkas. Dan saya langsung pengen izin setengah hari (-___-).