Search This Blog

Monday, December 18, 2017

Cerita Orang-Orang Suci dalam Persekongkolan Ahli Makrifat

Judul: Persekongkolan Ahli Makrifat
Pengarang: Kuntowijoyo
Sampul: Katalika
Cetakan: Januari 2019
Pemeriksa Aksara: Trie Hartini
Tebal: 187 hlm
Penerbit: DIVA Press dan Mata Angin




Menarik untuk menyebut beberapa  buku Kuntowijoyo sebagai sastra biografi, terutama pada Impian Amerika dan Persekongkolan Ahli Makrifat. Dua buku ini memiliki ciri yang hampir serupa, meskipun wadahnya berbeda: setiap bab adalah biografi singkat dari orang-orang yang berlainan. Dalam Impian Amerika, Kuntowijoyo mengikat kisah-kisah orang per orang tersebut lewat nasib mereka sebagai perantauan di Amerika Serikat. Di buku ini, ada satu sifat khusus yang dapat kita tandai dari karakter-karakter per cerpennya: ahli ibadah, wali Allah, orang shalih, sufi, atau sebutlah orang-orang suci. Warna sufisme dan nilai-nilai Islam memang kental sekali di buku ini, tetapi bobotnya tidak seberat Khotbah di Atas Bukit. Malah, cerpen-cerpen di buku ini ringan sekali dibacanya meskipun isinya sungguh berbobot. Yang pernah baca Impian Amerika mungkin akan menemukan pola bercerita yang sama di buku ini, hanya saja setting lokasinya yang berbeda—yang berakibat pada berbedanya juga aspek budayanya. Warna lokal lebih mendominasi cerita-cerita di buku ini meskipun ada satu-dua cerita yang berlatar di Belanda. Saya sangat menyukai cerita-cerita di buku ini.

Tuesday, December 12, 2017

Menguak Impian Amerika versi Orang-Orang Indonesia

Judul: Impian Amerika
Pengarang: Kuntowijoyo
Penata Aksara: Erwan Supriyono
Tebal: 264 hlm
Cetakan: Pertama, November 2017
Penerbit: DIVA Press




Selama ini, kita mungkin lebih akrab dengan diaspora orang India, orang Tiongkok, atau orang Arab. Bangsa-bangsa ini memang termasuk bangsa dengan tingkat diaspora paling besar di dunia. Hampir di setiap negara, Barat ataupun Timur, orang bisa dengan mudah menemukannya. Bagaimana dengan diaspora orang Indonesia? Data terakhir menunjukkan ada ratusan ribu orang Indonesia yang hidup dan tinggal di luar negeri. Mereka entah berkuliah, bekerja, atau ikut dengan suami yang orang bule di negara-negara luar. Salah satu negara yang menjadi tujuan favorit untuk berimigrasi adalah  Amerika Serikat. Negeri yang konon adalah Tanah Kebebasan ini rupanya masih memiliki daya tarik kuat bagi para imigran untuk bisa pergi dan menetap di sana, termasuk bagi warga Indonesia.

American Dreams, sebuah istilah sangat terkenal yang merujuk pada cita-cita banyak penduduk dunia yang ingin pindah dan hidup makmur di Amerika. Sejak abad ke-18, Amerika telah menjadi lambang bagi kebebasan dan kemakmuran baru. Berbondong-bondong manusia dari Afrika, Eropa, dan Asia menjadikan benua ini sebagai tempat tinggal mereka yang baru. Senyum Dewi Kebebasan yang menyambut kapal-kapal para imigran di lepas pantai New York seolah menandakan adanya harapan baru di negeri yang baru. Apa yang menjadikan Amerika begitu didamba?  Kemajuan, kemakmuran, dan kebebasan. Setidaknya, itulah tiga poin utama yang menjadikan Amerika Serikat magnet bagi para imigran. Setidaknya sebagaimana kisah-kisah para perantau yang dikisahkan Kuntowijoyo dalam buku Impian Amerika ini. 

“Kalau kau tak bisa mengubah, kaulah yang harus berubah.” (hlm. 56)

Monday, December 11, 2017

Baper bersama Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan

Judul: Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan
Pengarang: Bernard Batubara
Penyunting: RAIN
Penyelars Akhir: RAIN
Sampul: Amalina
Tebal: 192 hlm (full colour)
Cetakan: Pertama, November 2017
Penerbit: Laksana




Kadang, seringkali, beberapa kali, sesekali *halah* sebuah tulisan yang singkat sanggup membangkitkan kenangan yang lama terbenam. Cukup dua atau lima patah kata, maka patah juga tembok penghalang yang memisahkan kita dari ingatan-ingatan masa lampau yang mungkin lama terkubur diri yang tak hirau lagi. Peristiwa-peristiwa itu tiba-tiba menghambur menenuhi benak, baik atau buruk, susah atau senang, gembira atau kesedihan. Orang bilang, apa yang kita dengar atau baca hanya akan mengendap sementara dalam kepala. Tetapi apa yang kita lihat dan alami sendiri akan menetap lama dalam gerumbul pikiran, menunggu terpelantuk kembali ketika ada rangsang-rangsang audiovisual yang mampir. Buku ini, menurut saya, adalah hal itu.

Friday, December 8, 2017

Merayakan Ketuhanan bersama Danarto lewat Adam Ma’rifat

Judul: Adam Ma’rifat
Pengarang: Danarto
Penyunting: Tia Setiadi
Penyelars Akhir: Muhajjah Saratini
Sampul: 112 hlm
Tebal: Amalina
Cetakan: Pertama, November 2017
Penerbit: Basabasi




Bagi teman-teman yang berkuliah di jurusan Sastra Indonesia serta para pecinta sastra, nama Danarto dengan kumcer Adam Ma’rifat-nya memiliki tempat tersediri. Kita mungkin bisa lupa cerpen yang pernah kita baca lima atau sepuluh tahun lalu, namun sepertinya susah untuk melupakan kumcer yang satu ini. Jika disebut judulnya, mereka yang  pernah membaca buku ini pasti akan langsung terkenang pada betapa eksmerimentalnya (meminjam kata Pak Edi dan Basabasi) cerpen-cerpen di buku ini. Satu cerpen di buku ini bahkan memiliki judul yang tak bisa diketik dengan mesin ketik zaman dulu karena berupa not balok musik. Danarto mungkin  harus menggambarnya sendiri. Luar biasa, sejak kapan judul cerpen digambar dan bukannya ditulis? 

Friday, November 24, 2017

Dua Saudara Berebut Cinta dalam Rival Brother


Judul: Rival Brother
Pengarang: Sayfullan
Penyunting: Vivekananda G
Tebal: 285 hlm
Cetakan: 2017
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



36340493

Sudah lama saya tidak membaca novel seri remaja. Jadi wajarlah kalau awal-awal membaca “Rival Brother” ini saya agak kagok-kagok gimana gitu karena saya tidak seganteng Tristan eh  sudah lupa rasanya jadi remaja (begini ... saya lebih memilih kata DEWASA ketimbang TUA).  Jadi begini, beberapa bulan terakhir ini saya nekat baca buku-buku karya para pengarang senior macam Kuntowijoyo, Borges, Agus Noor, dan Newt Scamander sehingga stabilitas saya hampir goyang gitu saat disodori novel remaja ini. Mau tak mau, sel-sel kelabu di otak saya butuh menyesuaikan diri terlebih dulu untuk bisa menikmati bacaan merah jambu ini agar bisa menghasilkan ulasan yang jujur sekaligus tetap tidak terasa menjilat ke penulisnya awww dijilat dong Beib. Maaf sebelumnya buat bang Say karena saya butuh agak lama bacanya. Bukan maksud sok sibuk atau apa, tetapi kata orang, semua yang didapatkan dengan perjuangan dalam waktu lama maka hasilnya akan lebih berbekas. Cinta juga demikian, konon. Sebenarnya, halaman 1 – 19 bisa saya selesaikan dalam sekali duduk, tetapi begitu sampai Chapter 1 kecepatan baca saya langsung bubar jalan. Kenapa? Karena saya pengen kayak Tristan tapi sayang tinggi badan tak mengizinkan. *batuk duit

Thursday, November 23, 2017

Misteri sang Monstrumologist #2 (Kutukan Wendigo)



Judul: The Curse of the Wendigo - Kutukan Wendigo
Pengarang: Rick Yancey
Penerjemah:
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Tebal: 480 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

36322852

Seri kedua Monstrumologist memiliki nuansa aksi yang sedikit berbeda bila dibandingkan buku pertamanya. Pertarungan melawan sang ’monster’ lebih banyak dilakukan di wilayah yang lebih luas, dimulai di hutan-hutan terpencil di perbatasan Kanada dan kemudian dilanjutkan di wilayah kumuh kota New York yang sangat padat. Rick Yancey sepertinya memang menggunakan dualitas yang saling bertentangan di seri ini. Monster mitologis yang dibuat nyata di buku pertama (blemmyphae) dan monster mitologis yang ternyata mengada-ada di buku kedua (Wendigo) Petualangan di alam liar yang sunyi sepi pada buku pertama, dan pertarungan mengerikan di wilayah padat penduduk New York. Tetap saja, penulis dengan lihainya tetap mempertahankan ciri khas cerita sang Monstrumologis: suram, sendu, berdarah-darah, dan masih sama mengerikannya dengan buku pertama. Sosok sang Monstrumologis juga semakin matang di buku ini, dalam artian, sang doktor terlihat semakin ilmuwan di sini. Hanya berpijak pada fakta, tidak berasumsi keduali ada bukti nyata, serta tampak kaku dan tidak empati; semua sifat-sifat menyebalkan para ilmuwan ada padanya.

Monday, November 20, 2017

Review and Pengumuman Pemenang Giveaway: Kohesi

Judul: Kohesi
Penulis: Pia Devina
Editor : Risma Megawati
Desain sampul & grafis: Gagas Nir Galing
Penerbit: M&C – Koloni Novel
Terbit: 2017
Tebal: 232 hlm.
ISBN : 9786024285784


Dari membaca novel, saya belajar untuk memahami dan memaklumi betapa setiap individu memiliki masa lalu yang berbeda-beda. Ini menjadikan setiap kita menanggung beban yang berbeda-beda. Maka, memang benar jika ada ajakan untuk berlaku ramah kepada setiap orang karena masing-masing mereka memiliki masalahnya sendiri. Tuhan memberikan kita cobaan sekaligus berkah yang juga berbeda untuk masing-masing orang. Dengan kata lain, setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Ada yang beruntung bisa melalui ujian hidup yang mendera, tetapi tidak sedikit yang malah terjerumus dalam jurang kekacauan karena tidak mampu menanggung ujian kehidupan. Selalu ada Tuhan yang bersedia menampung dan menanggung keluh kesah kita. Sayangnya, kita sering kali lupa bahwa Dia Maha Besar, jauh lebih besar ketimbang masalah apa pun. KepadaNya lah kita sepantasnya memohon pertolongan. Karena ketika kita lupa dengan keMahaBesaran-Nya, maka yang datang adalah keburukan. Ini jadinya blogtour atau buletin Jumat ya kok jadi trenyuh gini? 

Ini pertama kali saya mencicipi buku karya Mbak Pia Devina. Buku belio memang beberapa sudah diterbitkan di penerbit tempat saya bekerja, tetapi saya belum tergerak membacanya karena memang saya bukan pengemar novel romance. Tetapi, saat ditawari menjadi host untuk novel Kohesi, saya langsung setuju ikutan karena blurb-nya yang berbeda. Kohesi memang bukan sekadar novel romance biasa. Lebih dari itu, unsur romannya malah tidak mendapatkan porsi utama di buku ini. Dari mulai membuka halaman-halaman awal yang dikisahkan dari sudut pandang Rindai, saya menebak kalau Kohesi lebih bernuansa psikologis ketimbang romansa.  Kemudian, dengan sikap Rindai yang introvert akut dan suram-suram gimana gitu, malah bikin saya semakin penasaran sama Kohesi. Jadilah novel ini selesai dibaca dalam satu kali duduk, di jam-jam selepas tengah malam, karena memang cocok sekali dengan suramnya.

Rindai ini anak introvert, dan bakat introvertnya ini semakin diperparah dengan kehidupannya yang tidak ideal. Sejak kecil, dia tinggal hanya bersama ayahnya yang gemar mabuk-mabukan serta berjudi di gubuk mereka yang reyot. Belum lagi perlakuan sang ayah yang sering memukulinya saat sedang marah atau mbauk.  Jadilah Rindai tumbuh sebagai remaja pendiam yang miskin, kurang kasih sayang, dan menarik diri dari dunia. Kemudian, semuanya tiba-tiba berubah ketika ayahnya meninggal. Seorang wanita kaya tiba-tiba hadir dan mengaku sebagai ibu kandungnya. Wanita perlente itu juga mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Setelah belasan tahun, akhirnya Rindai punya seorang ibu. Setelah bertahun-tahun, Rindai akhirnya bisa tinggal di rumah yang layak, bahkan cenderung mewah. Rindai bahkan mendapatkan bonus seorang kakak yang juga masih remaja bernama Rio. Toni, ayah tirinya bahkan tipe ayah yang sangat ideal. 

“Bila nanti sesuatu yang membuatmu merana datang ke hidupmu, hadapi saja. Sudah jadi takdirmu. Kamu anakku. Kecuali kamu menyesali kenyataan kalau aku ini bapakmu.” (hlm. 228)

 Sayangnya, di dunia ini, segala yang terlampau indah seringkali malah menyimpan racun mengerikan. Dari awal masuk ke rumah keluarga Iriana (nama ibu kandungnya), Rindai sudah menemui ada  yang aneh dengan keluarga itu, terutama pada Iriana. Secara teknis, Rindai harusnya bahagia, tetapi nyatanya tidak. Ia merasa ada yang salah pada keluarga barunya. Terutama, dia merasa salah karena ada di keluarga itu. Seperti ada kepura-puraan di balik harmonisnya keluarga Iriana tetapi Rindai tak tahu apa. Sampai kemudian, beberapa hari sejak Rindai tinggal di rumah indah itu, Rio ditemukan tak sadarkan diri di dalam lemari pakaiannya sendiri. Pemuda itu melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak satu botol cairan pembersih lantai. Dimulai dari kejadian tersebut, Rindai mulai mendapati pandangan Iriana tidak lagi selembut pertama kali mereka bertemu. Ada yang berubah dari perempuan lembut itu. Ada yang aneh dengan keluarga itu. Untuk kali pertama, Rindai mulai mempertanyakan kembali keputusannya untuk tinggal bersama keluarga Iriana yang “bahagia”.

“Aku merasa seperti air di dalam gelas yang tidak tepat. Bukan gelasnya yang salah. Tapi aku, si air, yang seharusnya tidak menempati gelas itu.” (hlm. 119)

Apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga Iriana? Yang penasaran bisa langsung beli novelnya atau ikutan kuisnya. Dari Penerbit Koloni, blog Baca Biar Beken mendapatkan kehormatan untuk membagikan satu novel KOHESI karya Pia Devina untuk satu pemenang yang beruntung. Selamat untuk yang beruntung dipilih oleh om random.org berikut ini

Nama : SITI MASLACHA

Twitter : @shitiearushi


Siap-siap, saya akan menghubungi kamu lewat akun Twitter, terima kasih.