Search This Blog

Thursday, July 20, 2017

Misteri Hidup dan Kisah Cinta Gajah Mada

Judul: Kisah Cinta Gajah Mada
Penyusun: Getsa Bayuadhy
Penyunting: Ratna M, Dyas SA
Cetakan: 1, 2015
Tebal: 216
Penerbit: Dipta






Menyelesaikan membaca Erstwhile ternyata menyisakan rasa penasaran untuk mengetahui lebih dalam tentang sosok Gajah Mada. Dalam novel Erstwhile, penulis mengajukan satu alternatif jawaban terkait misteri akhir kehidupan dari Mahapatih Gajah Mada, juga asal-usulnya. Dalam sebuah karya fiksi, sah-sah saja jika seorang penulis mengajukan suatu klaim jawaban dari banyak misteri sejarah yang tak atau belum terjawab. Dan Brown juga melakukannya dalam The Da Vinci Code. Sangat susah untuk mengecek kebenaran peristiwa sejarah, apalagi kalau kalau sumber-sumber referensinya tidak ada atau sangat terbatas. Di antara misteri-misteri sejarah yang belum banyak terungkap adalah Gajah Mada. Pun jika beberapa waktu lalu muncul polemik tentang Gajah Mada yang seorang muslim yang berasal dari Persia, ini membuktikan betapa sosok ini memang penuh kontroversi dan misteri. 

Monday, July 17, 2017

Pengumuman Pemenang Giveaway: Erstwhile, Persekutuan Sang Waktu



Judul : Erstwhile, Persekutuan Sang Waktu
Pengarang : Rio Haminoto
Penerbit: Koloni (imprint M&C!)
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal: 367 hlm


Selalu menyenangkan membaca buku-buku berjenis 'perjalanan waktu'. Walau tidak selalu menggunakan mesin waktu, perjalanan waktu juga bisa dilakukan dengan mundur ke belakang ke era penjelajahan samudra lewat pembacaan manuskrip dari Abad ke-14 M. Sebuah abad yang juga  menjadi saksi kebesaran salah satu kerajaan kuno di Nusantara, yakni kerajaan Majapahit. Dibawah pimpinan raja dan ratu legendaris yang dikawal oleh Mahapatih Gadjah Mada, Majapahit tumbuh menjadi kerajaan Maritim yang kekuasaannya membentang mulai dari Semenanjung Malaya hingga pulau Ambon. Banyak sejarahwan dan peneliti masih terkagum-kagum dengan bagaimana sebuah kerajaan di pojok Jawa ini bisa tumbuh menjadi hampir semacam imperium yang luas wilayahnya hampir menyamai bahkan melampaui luas negara Republik Indonesia saat ini. Peran penting Maha Patih Gadjah Mada memang tak diragukan lagi bagi kejayaan kerajaan ini, tapi banyak hal tentang sosok agung ini yang masih berselimut misteri. Beragam dugaan diajukan, tetapi nyatanya masih sangat sedikit yang kita ketahui tentang sosok yang telah berjasa besar bagi kejayaan nusantara di masa lampau ini.

Konon, sosoknya yang tergambar dalam sebuah arca peninggalan Majapahit dan pernah kita lihat di buku pelajaran sejarah itu sebenarnya juga bukan sosok beliau. Sosok Gadjah Mada memang masih menjadi kontroversi. Siapakah orang tuanya? Apakah Gajdah Mada pernah jatuh cinta? Dan, dimanakah makam dari tokoh besar ini? Penulis Erstwhile berupaya menjawab celah sejarah yang masih terselubung misteri itu lewat karya fiksi. Memadukan antara kisah sejarah dengan roman, Erstwhile menjadi sebuah bacaan kaya data yang mengesankan dan sama sekali tidak membosankan. Penulis mampu meracik sebuah kisah untuk mencoba mengisi celah-celah belum terungkap dalam sejarah nusantara yang bergerak cepat dan membikin penasaran. Dalam satu hari saya mampu menandaskan membaca novel apik ini karena asyiknya tema yang diangkat serta kepiawaian penulis menyajikan cerita yang saya yakin butuh riset panjang untuk bisa menulisnya.

Semua berawal dari lelang sebuah naskah kuno karya Picaro Donevante, seorang Florence yang terbuang ke Paris pada awal tahun 1300-an. Demi cintanya kepada seorang wanita, Donevante bertekad mengikuti jejak penjelajah besar Marcopolo yang telah melakukan perjalanan ke Tiongkok (Cathay) ratusan tahun sebelumnya. Anak muda itu begitu terpukau dengan deskripsi kota-kota yang kaya akan emas dan rempah-rempah di timur. Dia bertekad akan ikut membangun kekayaannya dari bisnis perdagangan dengan bangsa Cathay selain untuk mewujudkan impiannya untuk bisa lebih mengenal dunia Timur. Perjalanan pun dimulainya, walau dengan modal nekat dan uang seadaanya. Tapi kesungguhan dan ketulusan hatinya telah menggerakkan takdir dan mengubah tujuannya. Alih-alih berkunjung ke Cathay, Donevante dan rekan-rekan seperjalanannya malah sampai ke sebuah kerajaan kuno di nusantara yang selama puluhan tahun ke depan akan menjadi bagian dari hidupnya: Majapahit.

Di negeri inilah, Donevante berkawan akrab dengan Mahapatih Gadjah Mada, juga dengan Ratu Tribhuwana Tunggal Dewi, dan Raja Hayam Wuruk. Bahkan, pria ini menjadi ‘teman curhat’ dari ibu suri Gayatri yang menjadi poros kekuasaan Majapahit yang sesungguhnya. Dari hubungan perkawanan ini, Donevante kemudian menjadi sosok yang turut mendorong majunya Majapahit. Sebuah premis yang sangat menarik dari penulis, bahwa kemegahan dan kemajuan Majapahit selain karena peran besar Gadjah Mada juga karena adanya sosok asing lain dari belahan Bumi Barat bernama Picaro Donevante. Bule dari Italia ini membawa serta nilai-nilai renaisance Eropa ke Bumi Majapahit, dan dengan demikian memberikan pengaruh yang sangat besar pada kegemilangan Majapahit.  Dia menyertai saat Gadjah Mada menyerang Bali, menaklukan Borneo, hingga menduduki Tumasik (Singapura). Donevante juga turut mengawal Putri Dyah Pitaloka dalam peristiwa memilukan yang kelak kita kenal dengan Perang Bubat. Bagi para penyuka sejarah, novel ini menjadi sejarah-alternatif yang sangat mengasyikan untuk diikuti. Pasti akan benar-benar keren membayangkan seorang bule tengah beramah tamah dengan para putri Majapahit membicarakan tentang nilai-nilai romantisme ala  Eropa di sebuah keputren.

Meskipun banyak tokoh dan peristiwa sejarah dilibatkan di dalamnya, novel ini sama sekali tidak membosankan untuk dibaca. Justru karena premisnya yang unik, kita jadi dibikin penasaran dengan ujung petualangan seorang Picaro Donevante di bumi nusantara. alih-alih bosan, kita malah dapat banyak pengetahuan baru dan lebioh detail tentang sejumlah peristiwa sejarah yang selama ini kita ketahui hanya sekilas. Penggunaan sudut pandang pertama dan ketiga secara bergantian antara Picaro dan Rafa awalnya mungkin cukup mengganggu, tetapi terbukti kemudian menjadi penyegar saat pembaca sedang bosan dengan pemandangan di era jadul Majapahit. Apalagi, penulis menggunakan setting kota-kota besar di penjuru dunia, bergantian dengan setting nusantara  sehingga membikin kita iri nggak bosan. Kemudian, penutup novel ini menyajikan sebuah simpulan yang memuaskan tentang sejumlah teka-teki dalam sejarah: siapa sebenarnya Gadjah Mada, bagaimana asal-usulnya, dan kalau memang Gadjah Mada pernah mengenal seorang Eropa di era renaisance, dimanakah pusaranya?  Sejarah mencatat, semenjak Gadjah Mada menghilang, Majapahit pun perlahan mulai meredup demi menyongsong masa keruntuhannya. Apakah ini berkaitan dengan kepulangan Picaro Donevante ke Paris?





Sekarang, kita ke gratisan bukunya. Satu novel Erstwhile telah disediakan oleh Penerbit Koloni untuk satu calon pembaca yang beruntung di blogtour blog Baca Biar Beken.

"Kasih usul dong supaya sejarah bisa jadi tema yang menarik untuk dibaca atau diperbincangkan? Sertakan juga alasannya ya."


Selamat kepada Hamdatun Nupus dengan akun twitter @HamdatunNupus. Saya tertarik dengan penjabaran tentang cerita sejarah lewat media tari-tarian. Sepertinya akan sangat menarik jika tarian ini kemudian didokumentasikan. Terima kasih kepada semua peserta. Kepada sang pemenang, saya akan menghubungi lewat Twitter.

Terima kasih sudah ikutan.




Friday, June 9, 2017

Komik di Indonesia dalam Pandangan seorang Pembaca

Judul: Buah Terlarang dan Cinta Morina
Penyusun: Anton Kurnia

Editor : Gunawan Tri Atmodjo 
Cetakan: Pertama, Juni 2017
Tebal: 228 hlm
Penerbit: Basabasi





Agak bersalah juga menyelesaikan membaca buku ini di jam kerja. Tetapi, hari Kamis (8/6) kemarin terjadi pemadaman listrik dengan jangka waktu yang tidak tanggung: 6 jam. Dan, karena mau sortir buku juga nggak jago, jadi daripada rumpi (haus sih jadi lagi ngindarin rumpi) saya bertekad menyelesaikan membaca buku ini. Hasilnya tidak mengecewakan. Buku ini memberikan kepada pembacanya banyak informasi menarik terkait dunia komik di Indonesia. Atau, mungkin lebih tepatnya, memandang dunia komik Indonesia dari sudut pandang pembaca. Bagi pecinta komik, buku ini akan jadi pemandu istimewa untuk lebih mengenal perkembangan komik lokal. Sedangkan bagi peminat sejarah dan pembaca pada umumnya, buku ini adalah jenis buku unik yang jarang ditemukan ragamnya di pasaran. kemudian, tentang anggapan bahwa membaca komik itu tidak berguna. Penulis menjawabnya lewat buku ini.

Ada beberapa hal besar tentang komik yang dibahas di buku ini. Pertama sejarah perkembangan komik di Indonesia, terutama di Bandung. Dulu, ternyata ada toko buku Maranantha  yang menjadi saksi kejayaan komik lokal tahun 1950 hingga 1980-an. Toko ini juga melayani percetakan serta penerbitan komik-komik karya komikus lokal yang kondang kala itu, diantaranya Koo Ping Hoo dan RA Kosasih.  Keren ya seandainya toko ini masih ada, dan ternyata memang masih ada sodara-sodara. Sayangnya, toko legendaris ini kini menyusut menjadi semakin kecil, dan dibuka hanya untuk mengisi waktu pemiliknya—bukan karena banyak yang masih cari komik terbitan lawas. Menarik juga mengetahui bahwa saat jaya-jayanya dulu, komik terbitan toko ini tidak hanya dipajang di toko buku tetapi juga dijual oleh para pedagang eceran biasa. Luar biasa, seandainya saja hal yang sama masih terjadi saat ini. Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia ternyata juga suka baca.

Hal kedua yang dibahas di buku ini tentu saja adalah para komikus lokal yang pernah merajai serta menggerakkan  dunia perkomikan Indonesia. Untuk urusan ini, RA Kosasih menjadi jawaranya lewat seri komik Ramayana dan Mahabarata tetapi dengan rasa Indonesia. Bisa dibilang, komik inilah salah satu yang bisa mendekatkan para pembaca Indonesia dengan kisah pewayangan. Selain itu,  beliau ternyata juga pernah membuat komik superhero perempuan berjudul Sri Asih yang mungkin terinspirasi oleh Wonder  Woman. Tentu, selain itu, kita masih ingat bahwa negeri ini juga pernah menghasilkan komikus-komikus yang memproduksi seri superhero warna lokal seperti Gundala Putra Petir dan Laba-Laba Merah. Fakta unik lainnya, komik Deni Manusia Ikan ternyata adalah terjemahan dari komik luar negeri yang aslinya berjudul Denizen of the Deep. Komik ini sudah sulit didapatkan di pasaran saat ini.

Bicara tentang komik di Indonesia, tentu tidak bisa dilepaskan dari serian Tintin karya Herge. Sebagaimana kebanyakan pecinta buku lain di Indonesia, penulis rupanya memiliki kenangan khusus terhadap seri ini sehingga satu bagian di buku ini dipersembahkan untuk wartawan pemberani ini. Walau banyak hal tentang Tintin yang dikisahkan ulang, tetapi banyak informasi baru juga yang bisa kita dapatkan. Di antaranya, bandara yang digunakan untuk pendaratan pesawat Tintin dalam seri Penerbangan 714 adalah Bandara Kemayoran,  bukan Halim PK. Indonesia juga  adalah negara satu-satunya di Asia Tenggara yang oleh Herge dipilih sebagai setting komik Tintin. Ada lagi satu informasi menarik terkait rahasia Tintin yang tampak selalu muda. Konon, ada profesor dari Eropa yang menyebut bahwa rahasia awet muda Tintin adalah karena dia sering tidak sadarkan diri akibat trauma di kepala. Ya, memang sih dalam kebanyakan kisah Tintin, dia sering sekali dipukul kepalanya sampai pingsan. Trauma di kepala ini yang bikin hormon pertumbuhan berhenti berproduksi. Ada-ada saja ya, eh tapi siapa tahu?

Satu hal menarik lain terkait perkembangan komik nusantara, konon ada penerbit lain di Indonesia yang telah menerbitkan Tintin sebelum penerbit Indira. Konon, hanya beberapa kolektor saja yang memiliki buku cetak Tintin berbahasa Indonesia sebelum diterbitkan Indira. Tetapi, sampai sekarang, belum ada yang benar-benar bisa menunjukkan keberadaan buku tersebut. Misterius ya? Ada juga kisah tentang komik terbitan penerbit kecil di Sumatra Utara yang telah terlebih dahulu menggunakan istilah novel grafis jauh sebelum istilah ini pertama kali muncul dan digunakan di  Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Penulis menyertakan foto sampul komik bergambar pertama ini di buku ini. Yang saya  bolak-balik dan putar-putar untuk berusaha menyerap unsur kekunoannya *kurang kerjaan*. Sayangnya, penulis sedikit sekali mengulas tentang fenomena komik manga  yang mewarnai dunia komik Indonesia mulai tahun 1990-an. Tetap saja, buku ini sangat penting dimiliki dan dibaca untuk menambah pengetahuan seputar perkembangan dunia komik di Indonesia.

Monday, June 5, 2017

Review, Blogtour, and Giveaway 'RAHWANA' --The Winner

Judul: Rahwana
Penulis: Anand Neelakantan
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini, Chandra Citrawati
Penyunting: Shalahuddin Gh
Penyelaras Bahasa: I Wayan Sariana
Pemindai Aksara: Jenny M Indarto
Penggambar Sampul: Imam Bucah
Penata Letak: desain651@gmail.com
ISBN: 978-602-6799–24-1
Penerbit: Javanica




blurb:
“Akulah Rahwana, sang Asura! Selama ribuan tahun aku difitnah. Kematianku dirayakan di mana-mana dengan sukacita. Kenapa? Karena aku menantang bangsa Dewa demi kebahagiaan putriku, Sinta? Karena aku berjuang membebaskan rakyatku dari aturan kasta yang semena-mena? Engkau telah mendengar kemenangan Rama sang penakluk dalam Ramayana. Sekarang simaklah Rahwanayana, karena aku Rahwana!”

Sejarah selalu menjadi milik sang pemenang. Ia akan mendapatkan semuanya, termasuk menjadi kebenaran. Namanya dilantunkan penuh puja-puji para pujangga, dan selama ribuan tahun setelahnya, sosoknya bahkan berkembang sedemikian rupa sehingga bahkan disembah sebagai perwujudan dewata.
Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana kisah Ramayana ini ketika dipandang dari sudut pandang Rahwana? Bagaimana jika versi Ramayana yang sekarang adalah versi dari sang pemenang? Bagaimana jika alasan sebenarnya Rahwana menculik Sinta adalah karena wanita itu ternyata adalah putrinya? Bagaimana jika peradaban bangsa Asura yang dihancurkan Rama ternyata jauh lebih maju daripada peradaban Ayodhya? Mengapa selama ini kita tidak memandang Rama dan pasukan wanaranya sebagai agresor yang telah membakar dan meruntuhkan sebuah kebudayaan besar bangsa Asura?

Dalam beragam kisah Ramayana, kita dicekoki dengan kisah kepahlawanan Rama dan Laksmana sebagai dua pangeran yang menyelamatkan Sinta dan mengalahkan si raksasa Rahwana sang penguasa angkara. Tetapi bagaimana dengan pihak yang kalah? Jangan-jangan, si kalah juga tidak sepenuhnya bersalah. Buku ini adalah kisah Ramayana dari sudut pandang Rahwana. Dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama, bergantian antara Rahwana dan abdi setianya, Bhadra. Pembaca diajak mengenal lebih dekat pribadi Rahwana, bagaimana pandangannya akan dunia, juga sepak terjangnya dalam menaklukan musuh-musuhnya. Dari sudut pandang ini, kita bisa memaklumi bahkan mengagumi sosoknya sebagai manusia biasa. Saya malah hampir tak percaya kalau kalimat indah ini meluncur dari ucapan Rahwana, sang penguasa Alengka:"Menurutku itu tak sopan. Apakah mempelai wanita hadiah sayembara? Aku bahkan pernah mendengar lelaki bangsa dewa yang menjual istrinya untuk dijadikan budak, menggadaikannya, atau mempergunakannya sebagai taruhan. sungguh menyedihkan, tetapi apa yang bisa diharapkan dari bangsa pengembara yang belum sepenuhnya beradab itu."

Friday, May 26, 2017

Pengumuman Pemenang Blogtour and Giveaway: Man's Defender

Judul: Man’s Defender
Penulis: Maisie Junardy dan Donna Widjajanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Hetih Rusli
Cover: Eduard Iwan Mangopang
Cetakan: Pertama
Terbitan: Jakarta, 2017
Tebal: 288 Halaman
ISBN: 978-602-03-3983-2






Selama ini, banyak dari kita yang takut dengan perbedaan. Padahal, perbedaan sama sekali bukan sesuatu untuk ditakutkan. Perbedaan di dunia ini adalah sebuah kewajaran adanya. Dalam satu ayatNya, Tuhan juga telah menegaskan bahwa perbedaan adalah suatu fitrah dalam ciptaanNya. Mengapa harus takut pada perbedaan dan keberagaman? Mungkin, kita hanya belum tahu tentang betapa samanya kita dalam perbedaan. Bahwa setiap kita adalah unik dan berbeda, dan itulah persamaan yang menyatukan kita. Mempromosikan tentang pentingnya memahami dan menghargai perbedaan sebagai sebuah keunikan ini juga bisa dilakukan lewat bacaan. Hal indah inilah yang dilakukan Maisie Junardy dan Donna Widjajanto lewat novel ini. Memadukan asyiknya teknologi game virtual dengan kisah khas remaja belasan tahun, kedua penulis ini berhasil menyisipkan jubelan materi tentang indahnya keberagaman lewat kisah yang cukup seru untuk disimak.

"Tidak ada manusia di dunia ini yang sepertimu, dan tidak pernah akan ada lagi. Begitu juga menusia lainnya. Kalian memiliki kesamaan untuk berbeda." (hlm. 109)

Perasaan takut inilah yang awalnya dirasakan Alexander Putra Rosetti. Dilahirkan dari orang tua yang berbeda ras menjadikan dirinya anak ras campuran. Dirinya selalu terlihat berbeda di antara teman-temannya. Ini semakin diperparah dengan orang tuanya yang sering berpindah-pindah tempat tinggal. Dalam usianya yang masih enam belas tahun, Alex sudah pernah tinggal di banyak negara, mulai dari Tiongkok hingga Turki, dari Indonesia hingga India. Hampir setiap tahun, keluarganya berpindah rumah ke negara lain. Sayangnya, pengalaman terus berpindah-pindah inilah yang tidak disukai Alex. Terlalu cepat tinggal di suatu negara membuatnya tidak memiliki teman akrab. Baru saja dia menemukan teman-teman yang cocok, orang tuanya keburu mengajaknya berpindah negara. Maka makin nggak punya temanlah dia. Fisiknya yang berbeda juga sering membuatnya ditolak, seperti pengalaman buruknya selama tinggal di India.

"Kita tidak bisa mengubah orang lain, Alex. Tapi kita bisa mengubah diri kita sendiri." (hlm. 143)



Marco, Ayah Alex sendiri seperti tidak peduli dengan putranya. Pria itu begitu disibukkan dengan pekerjaannya hingga bahkan istrinya sendiri pun tidak tahan dengan pilihannya ini. Apa yang sebenarnya sedang dikerjakan Marco? Dia ternyata sedang merancang
CAASI–Culture Art Application and Simulation Interface, sebuah alat yang ditujukan untuk memperkenalkan keragaman budaya manusia di penjuru dunia. Dan putranya, Alex, akan menjadi subjek ujicoba yang pertama kali menggunakan CAASI ini. Apa sih sebenarnya CAASI ini? Alat ini berbentuk sarung tangan dan dikenakan saat penggunanya sedang tidur. Melalui titik-titik akunpuntur yang ada di ujung jari, CAASI akan membawa penggunanya ke alam mimpi tempat dia bisa bertemu serta berinteraksi bersama avatar pilihannya. Selama tidur, si pengguna akan diajak untuk berkeliling dunia dalam rangka mengenal anekaragam manusia dan kebudayaannya.

"Dunia kita ini sangat kaya budayanya. Banyak sekali harta karun yang bisa kita eksplorasi." (hlm. 182)

Berkat CAASI, Alex bisa melanglang buana mengunjungi berbagai manusia di berbagai belahan dunia, mulai dari suku Aborigin di Australia hingga ikut dalam penyerbuan bangsa Mongol yang pernah menguasai hampir seperempat dunia. Bagian inilah salah satu yang paling menarik dari buku ini. Sebagai pembaca, kita juga turut disuguhi banyak pengetahuan etnologis dan antropologis tentang banyak hal: tentang filosofi onsai di Jepang, tentang suku bangsa di Filipina yang memiliki sinonim terbanyak dari nasi, tentang Papua Nugini dengan dialek bahasa terbanyak di dunia, hingga perlambang dari tarian sufi yang berputar-putar itu. Pokoknya, banyak banget ilmu dan pengetahuan baru yang bakal kamu dapatkan dengan membaca novel ini.

"Dan kau tidak aneh. Berbeda itu tidak aneh." (hlm. 72)

Walau demikian, sebagaimana yang dikeluhkan Alex, CAASI masih cenderung mengajari dengan cara menguliahi atau menggurui. Beberapa pembaca mungkin juga akan merasa kalau novel ini hampir-hampir seperti ensiklopedia dengan banyak data di dalamnya sehingga tugas 'berceritanya' agak terganggu. Tetapi, mengesampingkan itu, buku ini tetap masih bisa dinikmati sebagai bacaan yang mengasyikkan. Kisah Alex juga mengingatkan kita pada bacaan-bacaan remaja ala-ala novel terjemahan. Lebih dari itu, novel ini turut mengemban sebuah tugas mulia yang teramat kita butuhkan saat ini: menghargai perbedaan. Di masa ketika dunia maya begitu riuh dengan ujaran kebencian karena perbedaan, buku ini sedikit banyak akan menyadarkan kita betapa sejatinya kita semua sama karena setiap kita adalah unik dan berbeda. 

“Alex, berbeda itu bukan kesalahan… Keunikanmu berharga… Keunikanmu adalah kelebihanmu…”  (hlm.75)





Pengumuman Pemenang


Mohon maaf atas molornya pengumuman pemenang GA novel Man's Defender. Ternyata, mengurusi perbaikan website kantor butuh begitu banyak perhatian, kesabaran, dan ketelitian. Tetapi, alhamdulillah sudah lumayan senggang ini dan di Minggu pagi nan ceria ini, inilah pemenangnya:


Frida Kurniawati
Twitter: @kimfricung
Email: vreesanthemum@gmail.com
Link share: https://twitter.com/kimfricung/status/869575016723079172

Selamat untuk pemenang. Silakan tunggu colekan saya di Twitter ya. Buat yang belum beruntung, tenang dulu. Mulai Senin ini bakal ada lagi giveaway keren di Baca Biar Beken. Hadiahnya DUA NOVEL yang tebal dan MAHAL. Ikutan ya.


Terima kasih sudah ikutan.

Wednesday, May 24, 2017

Dokumentasi Sastra Dunia Terlengkap dalam Bahasa Indonesia


Judul: Cinta Semanis Racun
Penerjemah: Anton Kurnia
Tebal: 632 hlm
Cetakan: 1, Agustus 2016
Penerbit: DIVA Press



Salah satu tolok ukur kemajuan suatu bangsa ada pada perkembangan sastranya. Bangsa-bangsa yang maju adalah para pembaca sastra yang lahap. Budaya membaca mereka sangat kuat yang pada gilirannya turut mendukung lahirnya para penulis sastra yang berbakat. Fakta bahwa sebagian besar penerima Nobel Sastra berasal dari negara-negara maju di kawasan Eropa dan Amerika Utara (baru-baru ini Tiongkok dan Jepang juga) juga semakin menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara majunya suatu bangsa dengan kemajuan karya sastranya. Mungkin kasusnya agak berbeda untuk di Amerika Selatan, tetapi kebanyakan penerima Nobel Sastra memang didominasi dari warga-negara maju. Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun belum ada sastrawan negeri ini yang mendapatkan kehormatan Nobel sastra, kita patur berbangga karena Pram pernah dinominasikan sebagai calon penerima Nobel sastra, meskipuntidak pernah terpilih juga akhirnya.

Thursday, May 18, 2017

A Head Full of Ghost. Kerasukan atau Tidak?

Judul: A Head Full of Ghost
Pengarang: Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: 400 halaman
Penerbit: Nourabooks
 
34776973

Kehidupan normal Merry (8 tahun) berubah sejak Marjorie mulai bertingkah aneh. Remaja empat belas tahun itu tiba-tiba saja sering berteriak-teriak nggak jelas di malam hari. Menerocos bahwa ada suara-suara yang saling berteriak tanpa henti di kepalanya. Akibatnya, Marjorie sering sekali melempar barang-barang, mengobrak-abrik kamarnya, bahkan pernah meninju dinding kamarnya sendiri sampai penyok. Keadaan semakin gawat ketika badan gadis itu dipenuhi luka bekas cakarannya sendiri. Rupanya, Marjorie sudah sedemikian tidak tahan dengan suara-suara di kepalanya sampai dia melukai dirinya sendiri. Lebih gawatnya lagi, gadis itu juga mulai mengancam adik kecilnya dengan ucapan-ucapan yang luar biasa mengerikan. Tindakan medis pun segera diambil, kedua orang tuanya mulai rutin membawa Marjorie ke psikolog dan dokter.